Friday, August 22, 2014

Kacamata Miss Picky : Cita-cita


Anak TK jaman dulu kalau ditanya, “cita-citanya mau jadi apa?” jawabannya dokter. Entah kenapa dulu profesi dokter paling hits untuk jawaban cita-cita. Sampai gue SMP pun gitu biar cepet kalau ditanya soal cita-cita jawabannya dokter. Coba yang dulu masih TK ditanya cita-cita jadi dokter sekarang  mungkin nggak semua jadi dokter. Ada yang jadi dokter tapi mungkin juga ada yang jadi istrinya dokter. Apan sih.

Itu  jawbaban anak TK jaman dulu. Kalau anak TK jaman sekarang, kalau ditanya cita-cita mau jadi apa? Atau kalau udah besar mau jadi apa?, beberapa anak TK perempuan pasti menjawab “ aku mau jadi princess”.  Ini  gara-gara entah teralu di doktrin film-film kartun tentang putri-putri cantik atau karena anak kecil dewasa sebelum waktunya, keseringan nonton yang bukan tontonannya, misalnya meniru gaya si artis yang pengen di panggil princess.  Nggak usah gue sebutlah dia itu siapa.

Bicara soal cita-cita, apa sih cita-cita ? Menurut KBBI cita-cita mempunyai arti: 1. keinginan (kehendak) yang selalu ada dipikiran, 2. Tujuan yang sempurna (tujuan yang akan dicapai/dilaksanakan). Gue coba mengolah arti cita-cita dari KBBI itu berarti keinginan yang selalu dipikirkan dan ingin dicapai, ya meskipun jalannya tidak sempurna dan hasilnya juga tidak sempurna. Kan kata orang yang sempurna itu Tuhan. Kalau kita ya mendekati semprna lah.  

Dari penegrtian itu gue mau lebih luas lagi ngomongin cia-cita. Biasanya ditanya cita-cita mau jadi apa, itu kan berarti merujuk pada sebuah profesi, ‘mau jadi apa?’ kalau buat gue cita-cita itu luas. Cita-cita bisa berkaitan dengan profesi, bisa juga keinginan yang berkaitan dengan hal lain, misalnya gue ingin bisa menerbitkan buku, sepanjang gue hobi nulis, ya kira-kira hampir 20 tahun lah suka yang nanamya ngayal dan nulis, gue pengen nerbitin buku (masih berproses kesana)  nah cita-cita gue itu nggak berkaitan gue mau jadi apa kan. Bisa juga cita-cita itu berkaitan sama keinginan lu di masa depan, mau kehidupan seperti apa. Bukan berarti lu milih-milih dan nego sama Tuhan, pengen hidup enak seperti di Surga. Selama lu masih hidup sih lu pasti bakalan  nemuin surga dan neraka dunia. Mungkin seperti ini, kepengen membangun keluarga yang bahagia, bisa aja kan dibilang cita-cita.  Atau cita-cita pengen ke suatu tempat/negara favorit, misalnya gue, pengen ke Viena, Austria, kenapa karena Viena itu dibilang negara teraman dan pusat seni.

Jadi buat gue cita-cita nggak hanya berkaitan sama profesi lu mau jadi apa, tapi bagaimana keinginan/harapan lu terhadap apapun yang pengen lu raih.   


(24 mei 2014) 

Wednesday, August 20, 2014

Toto Chan - Gadis Cilik di Jendela




Judul Asli : Toto Chan – The Little Girl at The Window
Judul Terjemahan : Toto Chan – Gadis Cilik di Jendela
Pengarang : Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa : Widya Kirana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 272 halaman
Cetakan dan tahun terbit : Cetakan kedua Juli 2003, Cetakan ketiga, September 2003

Buku ini menceritakan seorang Toto Chan, Gadis cilik yang mempunyai rasa ingin tahu besar terhadap apapun. Toto Chan sering melalukan hal-hal yang tidak biasa. Orang lain sering menganggap Toto Chan aneh bahkan dianggap nakal.  Saat ia baru mulai sekolah, Guru kelasnya mengadu kepada Ibunya bahwa ia suka  membuat keributan dan mengganggu aktivitas pembelajaran di kelas. Semua tingkah laku Toto Chan membuat sang guru jengkel. Akhirnya Toto Chan dikeluarkan dari sekolah. Toto Chan melakukan berbagai tindakan aneh karena ia ingin membuktikan rasa penasarannya.  
Toto Chan dimasukkan ke sebuah sekolah unik, Tomoe Gakuen. Sekolah ini unik karena bangunan sekolah berupa gerbong kereta api bekas. Sistem pembelajaran yang diberikan pun unik Semua siswa bebas menentukan apa yang ingin dipelajari. Murid-murid belajar dari kehidupan sehari-hari. Toto Chan sangat senang bersekolah di sana.
Toto Chan menyukai sekolah itu sejak pertama kali datang bersama Mama. Toto Chan diterima dengan baik di Tomoe Gakuen. Sang Kepala Sekolah, Pak Sasoku Kobayashi sangat menyukai Toto Chan, karena ia memiliki rasa ingin tahu yang besar. Selama sekolah di Tomoe Gakuen, Toto Chan mendapat banyak pengalaman menarik. Ia bertemu dengan teman-teman yang memiliki keunikan masing-masing. Pak Kobayashi memberikan materi ajar dengan mempraktekkan langsung. Toto Chan dan teman-temannya bebas mengenal dan mengeskplorasi rasa ingin tahu. Selain pengalaman menarik di sekolah, Toto Chan juga mendapat pengalaman dan pembelajaran dari kegiatan sehari-hari, seperti saat bermian dengan anjing kesayangan, saat berangkat sekolah, saat mengikuti karya wisata di luar sekolah, dan kegiatan lainnya. ia dapat memperoleh hal baru setiap hari.
Novel  setebal  272 halmaan ini dapat dinikmati oleh semua kalangan, baik anak-anak, orang tua, pendidik, dan pemerhati anak. Novel ini berisi pengalaman belajar dari seorang anak dengan rasa ingin tahu besar. Rasa ingin tahu tersebut didukung pula oleh orang-orang dewasa. Di ceritakan bagaimana seorang kepala sekolah, Pak Kobayashi dan Mama Toto Chan membimbing Toto Chan dengan cara yang menarik. Cerita dikemas secara ringan. Meskipun novel terjemahan, Penerjemah menggunakan pilihan kata dan bahasa sederhana sehingga alur cerita dapat dipahami. Novel ini berlatar belakang masyarakat jepang, tidak dipungkiri ada beberapa istilah dalam bahasa jepang yang digunakan. Penulis tetap membawakan cerita secara ringan dan memberi penjelasan melalui narasi cerita.
Saya menyukai dunia anak-anak dan pendidikan. Setelah membaca buku ini, banyak hal yang dapat dipelajari. Media belajar  kreatif membuat anak dapat mengembangkan rasa ingin tahu mereka. Proses belajar tidak hanya diperoleh dengan teori-teori di sekolah. Anak-anak dapat belajar  dari kegiatan yang dilakukan. Teori itu memang penting tetapi mengaplikasikan kedalam kehidupan nyata  jauh lebih penting.
Satu hal lagi yang saya dapat dari novel ini. Saat anak bertingkah laku tidak wajar, terkadang orang dewasa, baik guru maupun orang tua, cepat sekali memberi label negatif. Anak dilabel nakal, bodoh, dan sebagainya. Padahal anak-anak pada masa itu sedang memiliki rasa ingin tahu besar terhadap apapun. Sebaiknya orang dewasa dapat memahami kondisi anak. Jangan sampai label negatif membuat anak tidak percaya diri dan menggangu proses perkembangan belajar mereka. 
5 stars out of 5 for Toto Chan – Gadis Cilik di Jendela
(oleh : @ratihred)

Saturday, August 16, 2014

#LetterstoAubrey from Onty Ratih - Dongeng Semangat untuk Ubii

Dongeng Semangat untuk Ubii..
Hai Ubii, kenalin aku onty Ratih, aku seneng deh bisa kenal sama Mommy Ubii, Mommy Ges. Mommy Ubi keren dan selalu cinta banget sama Ubii. Ubii, Onty mau kasih cerita untuk Ubii, Onty suka banget nulis cerita dan bercerita. Inspirasi cerita ini datang dari Ubii loh. Melalui cerita ini Onty pengen kasih semangat buat Ubii. Ubii anak yang kuat. Kelak saat Ubii  sudah sekolah, Ubii banyak bertemu dengan teman baru yang beraneka ragam. Ubii jangan pernah takut yaa, selalu sayang sama semua orang. Mungkin suatu saat nanti Ubii bertemu dnegan teman-teman yang belum mengerti Ubii, mereka suka mengejek atau menggap remeh Ubii. Ubii tetetp semangat dan jangan pernah minder. Ubii tunjukin segala hal yang Ubii bisa. Tuhan sayang banget sama Ubii, Tuhan pasti memberi bakat luar biasa untuk Ubii. Semoga lewat cerita onty ini Ubii bisa terus semangat dan menjadi Ubii yang Kaya Cinta, Ubii yang mendapatkan banyak cinta dari semua yang sayang sama Ubii dan berikan juga cinta Ubii kepada semua orang  melalui bakat, talenta, dan karya. Terus menjadi Ubii yang menginspirasi dan membanggakan untuk Mommy, Daddy, & semua orang.
Love you, Ubii :*
Selamat menikmati cerita dari Onty ya, Ubii J

Ceritaku Bersama Teman Spesial
Medi Si Penari

Sabtu sore adalah hari paling ditunggu beberapa murid Sekolah Pelangi. Ada apa di sabtu sore? Ada Kelas ‘Tari Ceria’.  Sekolah Pelangi membuka kelas bebas untuk murid-muridnya, salah satunya kelas tari. Siapapun boleh mengikuti kelas itu, baik murid perempuan maupun laki-laki. Kak Tasya dan Kak Fifi yang mengajar. Mereka bisa membuat tarian kreatif sehingga bisa diikuti semua murid.  
Kali ini Kak Tasya mengajak murid-murid bercerita melalui tarian, yaitu Tarian Angsa. Tarian itu akan dibawakan dalam pertunjukan hari ulang tahun sekolah. Wah pasti menyenangkan sekali ya.
“ Kak Tasya, nanti aku yang jadi angsanya, ya?”, pinta Anti.
“ Jangan kak, Anti jadi pohon saja hahaha..”, goda Kiko.
“ Aku saja, kak, dia kan nggak bisa berputar seperti ini”, seru Monik sambil memutar badannya seperti balerina. Kak Tasya hanya tersenyum melihat murid-muridnya senang dan bersemangat.
Saat mereka berlatih, Kak Fifi datang bersama Medi. Hari ini Medi baru mengikuti latihan di Kelas Tari Ceria. Medi baru tiga hari pindah ke Sekolah Pelangi. Kak Fifi mengenalkan Medi pada teman-temannya di Kelas Tari Ceria.
“ Teman-teman, ini Medi, dia baru ikut latihan hari ini.”, ujar Kak Fifi.
“ Kak, emang Medi bisa nari?”, bisik Anti pada Kak Tasya.
“ Kita belajar sama-sama, ya”, ujar Kak Tasya.
Anti berbisik pada Monik dan Nina. Mereka adalah teman sekelas Medi di kelas 2. Mereka tidak percaya bahwa Medi bisa mengikuti kelas menari. Kemarin saat pelajaran matematika Medi tidak bisa mengikuti pelajaran karena alat bantu dengarnya rusak. Akhirnya Ibu Rina mendampinginya saat belajar.     
Monik dan Anti terus berbisik membicarakan Medi. Mereka menganggap Medi tidak bisa apa-apa tanpa alat bantu dengar.
“Kamu kok bisik-bisik, dia kan nggak dengar.”, ujar Anti.
“ Kak Tasya, dia kan nggak bisa dengar, nanti  kalau salah gimana?”, bisik Monik.
“ Medi sudah pakai alat bantu dengar, Monik, jadi Medi terbantu.”, ujar Kak Tasya.
 “Medi seperti kakekku saja, bolot, nggak bisa dengar.”, celetuk Kiko.
“Ssst! Kiko, Medi masih bisa dengar kok, kan ada alat bantu dengar. Kalau alatnya rusak, kita yang membantunya, ya.”, sahut Kak Fifi.
“ Maaf, tapi benar, Kak, kakekku itu ‘bolot’ tidak bisa dengar.”, ucap Kiko pelan.
Kak Tasya dan Kak Fifi mengerti bahwa Medi harus dibantu alat bantu dengar. Ketika masih kecil Medi sakit menyebabkan  badannya kaku dan telinganya terganggu.Namun Kak Tasya dan Kak Fifi tetap menerima Medi untuk belajar tari bersama di Kelas Tari Ceria.  
“ Alat bantu dengarku sudah betul, kok. kalau rusak lagi, aku bisa melihat gerakan Kak Taya, jadi aku masih bisa belajar menari.”,  ujar Medi.
Akhirnya semua murid kelas tari berlatih, Tarian Angsa. Medi ikut menari sebagai angsa. Gerakan Medi luwes bahkan lebih baik dari teman-temannya. Semua teman menatap heran, termasuk Kak Fifi dan Kak Tasya. Ternyata sejak kecil Medi selalu dilatih Ibunya gerak dan tari agar badannya tidak kaku. Medi suka sekali menari. Meskipun Medi tidak bisa mendengar, Medi masih bisa melakukan banyak hal seperti teman-teman. Kak Fifi meminta agar semua teman-teman Medi juga belajar menari bersama. Medi juga tidak sungkan membantu teman lain. Anti dan Monik merasa bersalah menganggap Medi tidak bisa apa-apa. Mereka pun belajar menari bersama Medi. Kak Tasya memilih Medi menjadi penari angsa utama untuk pertunjukan.

(Angelina Ratih Devanti, 9 Agustus 2014, Untuk: Ubii & Mommy Ges)

#LetterstoAubrey ini adalah kado ulang tahun Ubii yang ke- 2 
Dongeng Semangat dari Onty Ratih untuk Aubrey Naiym Kayacinta :)
Terimakasih untuk Ubii & Mommy Ges yang telah memberi inspirasi



Ceritaku Bersama Teman Spesial: #5 Todi Juara Lari

Ceritaku Bersama Teman Spesial
#5 Todi Juara Lari
Pagi yang cerah Pak Edi mengajak murid-murid Kelas Asteroid bermian di lapangan sekolah. Sari, sang ketua kelas memimpin barisan. Mereka semua berjalan menuju lapangan dengan riang. Setibanya di lapangan Sari merasa ada yang kurang saat melihat barisan teman-temannya.
“ Pak Edi, Todi nggak masuk.”, ujar Sari.
“ Nah, itu dia”, ujar Pak Edi sambil menunjuk Todi yang baru muncul. Ia tertinggal. Pak Edi membantu Todi untuk bergabung. Teman-teman Todi menatap heran. Ada yang berbeda dari Todi.
“ Kaki kayunya mana, Todi ?”, tanya Beno si badan besar.
“ Patah.”, jawab Todi.
“ Nggak bisa jalan dong ?”, ujar Tika.
“ Bisa. Kan pakai kursi roda.”, jawab Todi.
“Sekarang kakinya Todi roda ya hihihi.”, bisik Tika pada Beno.
Biasannya Todi memakai tongkat untuk berjalan. Sejak kecil kaki Todi sakit, tidak bisa bergerak. Hari ini Todi menggunakan kursi roda. Meskipun Todi duduk di kursi roda, ia tetap ingin mengikuti olah raga bersama teman-teman.  
Hari ini Pak Edi mengajak bermain “Lari Ambil Harta Karun”. Wah asyik sekali mengambil harta karun. Harta karun apa ya ? Pak Edi memasukkan bendera-bendera ke dalam ember biru. Semua murid diminta untuk mengambil  bendera dengan cara berlari dan membawa kembali pada tempat semula.
Beno, si badan besar bersiap di barisan depan. Peluit dibunyikan oleh Pak Edi. Secara bergantian murid-murid berlari mengambil bendera dan kembali ke tempat semula. Ada murid yang berlari cepat namun ditengah jalan terjatuh, seperti Sari, Beno, dan Rafa. Namun ada pula yang malah berjalan karena takut terjatuh. Pada barisan paling belakang, tinggalah Todi.
“ Todi, mau coba juga ?”, tanya Pak Edi.
“ Iya.”, jawabnya mantab.
“ Memang, Todi bisa ?”, ujar Beno ragu.
Todi berusaha menggerakkan kursi roda dengan cepat. Ia mengambil bendera di ember biru kemudian berbalik menuju tempatnya semula. Suasana semakin ramai. Semua murid bersorak. Pak Ade ikut memberi semangat pada Todi.
“ Wah, Todi bisa cepat mengambil bendera. ”, puji Sari.
“Kalau pakai kaki kayu, pasti nggak bisa cepat.”, Beno mencibir.
“ Kaki kayu itu apa, Ben?’, Tiba-tiba Pak Edi mendekati Beno.
“Kakinya Todi, Pak, kan Todi jalannya pakai tongkat.”, ujar Beno sambil tertawa. Beberapa teman lain ikut tertawa.
“Tapi sekarang Todi jalannya pakai roda.”, sahut Momo.
Pak Edi memberi pengertian pada Beno dan teman-teman bahwa Todi masih mempunyai kaki seperti mereka. Meskipun kaki Todi tidak bisa untuk berjalan, Todi masih bisa bergerak dengan tongkat maupun kursi roda. Todi tampak bersemangat untuk bermain bersama teman-temannya. Pak Edi meminta agar murid-muridnya dapat membantu Todi saat mengalami kesulitan.
Tiba-tiba Pak Edi mempunyai ide.
“ Sekarang kita lomba, ya !”, seru Pak Edi bersemangat.
Semua murid sangat senang. Mereka mengajukan diri jadi peserta. Pak Edi meminta 3 orang untuk jadi peserta babak pertama, sementara murid lain menunggu giliran.  
“ Tiga orang dulu ya, nanti gantian, siapa mau jadi peserta babak pertama ?”, tanya Pak Edi.
Beno mengajukan diri. Rafa si kurus tidak mau kalah. Sudah ada 2 peserta, lalu siapa lagi ya ?
“ Saya, Pak.”, seru Todi sambil mendorong kursi rodanya.
Beno dan Rafa menatap heran. Apakah Todi bisa menang melawan mereka. Teman lainnya pun ragu. Pak Edi justru bangga pada Todi karena Todi bersemangat mau  ikut lomba lari.
Beno, Rafa, dan Todi bersiap  pada posisi masing-masing. Peluit segera dibunyikan oleh Pak Edi. Mereka berlari menuju ember-ember berisi bendera. Beno si badan besar berlari sekuat tenaga mencapai ember. Rafa tak mau kalah dengan Beno. Bagaimana dengan Todi? Todi mendorong kursi rodanya agar dapat menyusul Beno dan Rafa. Mereka bertiga berhasil mengambil bendera dalam ember.
Saat kembali ke tempat semula, Beno berhenti sejenak di tengah lintasan lari karena lelah. Rafa berusaha sekuat tenaga berlari mengalahkan Beno. Tiba-tiba sepatu Momo terlepas dan terlempar ke dalam semak-semak. Rafa malah mengejar sepatunya. Todi terus berusaha mendorong kursii roda. Todi melewati Beno. Akhirnya pada babak pertama Todi menjadi juara. Semua teman-teman tepuk tangan untuk Todi. Semua bersorak gembira saat Todi telah kembali membawa bendera.
“ Wah, Todi kuat, padahal harus menggerakkan kursi roda.”, Puji Sari.
“ Huuh…huuh.. iya.. Kamu hebat, aku cepat lelah jadi kalah deh.”, ujar Beno dengan nafas terengah-engah. Todi hanya tersenyum. 
“ Kamu hebat Todi, kalau ada lomba lari lagi, kamu ikut ya.”, ujar Pak Edi bangga.
“ Iya, Pak !”, jawab Todi mantab.
Pak Edi memberitahu kepada semua murid bahwa Todi tetap bisa beraktivitas seperti mereka walaupun harus dibantu kursi roda atau tongkat. Teman-teman Todi  bangga dan tidak lagi meledek Todi dengan sebutan ‘ Si Kaki Kayu’ atau ‘ Si Kaki Roda ‘ .


(Angelina Ratih Devanti, 23 Mei 2014) 

Ceritaku Bersama Teman Spesial: #4 Mirel Suka Matematika

Ceritaku Bersama Teman Spesial
#4 Mirel Suka Matematika
Waktu istirahat telah usai, saatnya semua murid kembali ke kelas. Kelas ‘Berhitung Asyik’ bersama Pak Ade akan dimulai. Mirel tampak lemas saat masuk kelas. Sita, teman sebangkunya heran menatap Mirel. Ia tampak tak bersemangat. Apa yang membuatnya tak bersemangat ya ?
Saat Pak Ade meminta semua murid mengeluarkan PR Matematika, wajah Mirel semakin muram. Sita mengira Mirel sakit.
“ Mirel, kamu sakit ya ?”, tanya Sita.
“ Tidak. “, jawab Mirel pelan.
Pak Ade berkeliling memastikan semua murid membawa PR matematika.
“ Semua membawa PR matematika ?”, tanya Pak Ade.
Iya, Pak.”, jawab semua murid serentak.
Pak Ade mengajak membahas PR bersama. Pak Ade mengeluarkan kartu warna-warni dari  “Keranjang Rahasia” , kemudian membagikan kepada semua murid. Ada kartu warna: merah jambu, biru, kuning, hijau, merah, oranye, dan hitam. Wah untuk apa ya kartu warna-warni itu? Semua murid menatap heran kartu itu. Murid yang mendapat kartu hitam diminta mengerjakan soal di depan. Namun mereka bebas memilih soal yang akan dikerjakan. Sedangkan murid yang mendapat kartu warna lain bertugas untuk mengoreksi jawaban.  
Satu persatu murid maju, namun Pak Ade heran, mengapa yang maju ke depan hanya 4 orang, padahal PR matematika berjumlah 5 soal.
“ Siapa lagi, yang mendapat kartu hitam?”, tanya Pak Ade.  
Mirel maju dengan ragu-ragu. Lisa, Doni, Sari, dan Nana sudah memilih soal. Mirel terpaksa mengerjakan soal yang tersisa. Ia terdiam kaku melihat soal nomor 4. Dia ragu-ragu karena belum mengerjakan soal nomor 4. Wajahnya pucat saat hendak menuliskan di papan tulis. Tangannya bergetar memegang buku dan spidol. Keempat temannya telah selesai menuliskan jawaban PR. Mirel masih berdiri di depan. Satupun jawaban belum dia tulis.
“ Mirel, lama nih, cepetan dong! “, terdengar ucapan seorang kawan dari belakang
Mirel masih menunduk menatap buku PR-nya. Tangannya bergetar. Buku PR Mirel terjatuh. Saat Mirel mengambil buku, suasana kelas semakin ramai.
“Mirel lama nih !”, ujar Todi.
“Cepetan Mirel, aku mau tahu jawabannya !”, ujar Lisa.
Pak Ade menghampiri Mirel dan melihat soal nomor 4 masih kosong. Mirel menjadi takut dan menangis di depan kelas.
“ Kok nangis, ih.. cengeng!”, ujar Bobo.
 “ Mirel, payah! ”, ujar Andi.
“ Mirel cengeng, Mirel payah !”, ujar teman lainnya.
Pak Ade menepuk pudak Mirel supaya tenang. Ia pun diminta untuk kembali ke tempat dududknya. Sita memberikan sapu tangan untuk menyeka air mata mirel.
“ Jangan nangis, nanti kita kerjain bersama, ya.”, ujar Sita.
“ Aku belum bisa, takut dimarahin Pak Ade”, bisiknya terisak.
“ Tidak apa-apa, kalau belum bisa, nanti kita belajar lagi ya. ”, ucap Pak Ade sambil menepuk pundak Mirel.
Pak Ade memberi pengertian kepada teman-temannya bahwa Mirel memang belum mengerti materi penjumlahan. Suara ramai pun mereda. Akhirnya Pak Ade mengajari kembali penjumlahan pada PR matematika itu. Soal nomor 4 tertulis ‘ 2 + 3 =…’  Pak Ade mengeluarkan bola merah dan meminta semua murid menghitung jumlah bola tersebut. Bola merah berjumlah 2 buah. Kemudian Pak Ade mengeluarkan bola biru,
“ Mirel, bola biru ada berapa?”, tanya Pak Ade.
“ satu..dua..tiga.. tiga, Pak ?”, jawab Mirel. 
Pak Ade menggabungkan semua bola dan meminta murid-murid menghitung jumlah semua bola. Semua murid mencoba menghitung bola-bola itu. 2 bola merah di tambah 3 bola biru menjadi 5 bola. Akhirnya soal nomor 4 dapat terjawab.
Pak Ade mengajari Mirel penjumlahan dengan menggunakan bola warna-warni itu. Sedikit demi sedikit Mirel pun dapat mengerti. Sita ikut membantu Mirel dalam mengerjakan soal penjumlahan lain dengan benda lainnya. Mirel menjadi senang dan bersemangat mengerjakan soal matematika dengan cara asyik. Teman-teman Mirel akhirnya mengerti bahwa Mirel butuh banyak belajar. Mereka tidak lagi meledek Mirel, tetapi membantu Mirel mengerjakan soal mateamtika seperti cara Pak Ade. Mirel tidak takut lagi belajar matematika.  


(Angelina Ratih Devanti, 20 Mei 2014) 

Wednesday, August 13, 2014

Belajar Makan Coklat


Ada hembusan yang memaksa untuk mundur dua langkah
Langkah panjang yang membuatku harus berdesah
Secuil kisah ingin kembali diasah

…….. (beri waktu ku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan)……..

Ada obrolan seru disertai gurauan yang memicu rona malu,
Tutur yang sempat ku percaya namun seakan ada hembusan lain yang ingin berkata,
“dia fatamorgana.”
Menyembur getaran suara bahwa manisnya coklat,
mutlak tidak akan pernah bisa masuk dalam raga.
tak tahu kenapa.

Kembali kini,
tak sengaja mata pancing  menangkap intuisi.
Kau dapat menikmati.
MENIKMATI.
Ajaib!

Tertegun bagaimana dia  masuk kerongkonganmu?
rona jijik selalu terlukis kala tercium aroma nikmat.
Ya, coklat memang nikmat.
Secepat kilat kalian menyatu.
Secepat kau terbang terburu-buru menuju zona baru.  
meninggalkan persemayaman ungu.

Tak lagi jijik dan mual,
seakan kau punya mantra penawar.
Nyatanya, Kau bahagia menikmati
hangatnya secangkir coklat,
harumnya sepotong brownis,
manisnya semangkuk es krim.

Manisnya tak cukup seru jika belum menikmati pahitnya.
Karena itulah coklat yang sesungguhnya
Sama seperti kopi
(yang juga tak bisa kau nikmati)

Untukmu yang sempat tak bisa menikmati coklat, “Selamat, sudah bisa menikmati manisnya coklat”

(Angelina Ratih Devanti, 12 Agustus 2014)



Monday, April 14, 2014

Ceritaku Bersama Teman Spesial: #3 Alit Anak Baik

Ceritaku Bersama Teman Spesial
#3  Alit Anak Baik

Setelah Kelas ‘Berhitung Asyik’ selesai bel sekolah pun berbunyi,
“kriiiiing……kriiiing…!!” . Waktunya istirahat.
Semua anak berlarian keluar kelas. Ada anak yang duduk di depan kelas untuk menikmati bekal. Ada yang bermain petak umpat. Ada yang bermain lompat tali.
Alit, Mega, Sasa, dan Bima sedang asyik bermain di bak pasir. Mereka berempat membuat berbagai bentuk. Alit  dan Sasa sangat suka membuat istana pasir. Mega membuat beruang. Sedangkan Bima lebih suka membuat kura-kura.
Saat Alit ingin menuang pasir ke dalam ember, ia bingung mencari sekop. Ia melihat ketiga temannya menggunakan sekop namun ia tak punya. Ia melihat ternyata hanya ada 3 sekop. Alit meminta ijin kepada teman-temannya,
“ Aku boleh pinjam sekop ?”, tanya Alit sambil menatap ketiga temannya.
“ Aku sedang pakai.”, jawab Mega.
“ Tunggu ya, aku mau selesaikan kura-kuraku dulu.”, jawab Bima.
“ Ini.”, ujar Sasa sambil menyerahkan sekop kepada Alit. Alit mengambil sekop dari Sasa, namun karena terlalu cepat mengambil sekop dari tangan Sasa, Alit tidak sengaja mencakar tangan Sasa. Sasa merintih kesakitan.
“ Aduuh, Alit, kok mencakar tanganku sih !”, ujar Sasa kesal.
“Aku nggak sengaja.”, jawab Alit ketakutan.
Mega dan Bima segera melihat keadaan Sasa. Mereka melihat tangan Sasa yang merah karena tercakar kuku Alit.
“ Tangannya Sasa merah.”, seru Mega.
“ Aku nggak sengaja, aku mau ambil sekop kok.”, ujar Alit.
“ Alit nakal, aku udah kasih sekop tapi dicakar”, ujar Sasa terisak.
Bima segera berlari mencari Ibu Sisi. Ibu Ssisi adalah guru kelas mereka. Sementara Mega dan Sasa masih bersama Alit. Sasa dan Mega menjadi kesal pada Alit. Sebenarnya Alit tidak bermaksud mencakar Sasa, tetapi Sasa dan Mega sudah menyalahkan Alit dan terus menyatakan bahwa Alit nakal.
“ besok Aku nggak mau main lagi, Alit nakal”, ujar Sasa terisak dan kesal.
“ iya, aku juga, Alit nakal, aku nggak mau temen.”, ujar mega ketus.
“ Aku nggak nakal, aku nggak sengaja,”, ujar Alit ketakutan.
Ibu Sisi segera datang dan menanyakan kejadian yang terjadi. Alit menceritakan kejadian yang terjadi demikian  pula Sasa. Ibu Sisi akhirnya mengerti. Alit memang tidak sengaja mencakar Sasa karena Alit masih sulit untuk mengontrol gerakannnya. Alit tidak bermaksud mencakar Sasa. Bahkan sebelumnya Alit pernah jatuh di bak pasir karena tidak bisa berhenti saat lari dari kelas menuju bak pasir. Ibu Sisi pernah dipukul oleh Alit, padahal Alit ingin menyentuh tangan Ibu Sisi untuk minta diajari berhitung.
Ibu sisi berusaha memberi pengertian kepada Sasa dan teman-teman Alit bahwa Alit memang tidak sengaja mencakar tangan Sasa. Ibu Sisi juga berkata bahwa Alit juga anak baik, ia tidak nakal. Ia mencakar atau memukul karena Alit belum dapat menggerakkan tangannya dengan baik dan membutuhkan bantuan Ibu Sisi dan teman-temannya.
“ Alit nggak nakal kok, Alit kurang hati-hati saat mengambil sekop dari Sasa”, ujar Ibu Sisi.
 “ Tapi sakit, Bu Sisi, tuh merah kan tanganku !”, keluh Sasa.
“ Aku nggak sengaja Sasa, maaf ya “, Alit meminta maaf karena dia merasa bersalah telah mencakar Sasa.  
“ Iya, Alit lain kali hati-hati ya, kalau mua ambil sesuatu dari teman pelan-pelan ya.”, ujar Ibu Sisi.
Setelah Alit dan Sasa saling bersalaman. Mereka bermain bersama kembali di bak pasir. Ibu Sisi pun ikut serta bermain bersama mereka. Ibu Sisi mengajak Alit bermain pasir dengan meremas-remas pasir agar ototnya lemas sehingga  Alit dapat belajar mengontrol gerakannya. Alit diajak untuk mengambil dan menuang pasir ke ember dengan tangannya.
  Akhirnya Teman-teman Alit mengerti keadaan Alit. Alit juga bukan anak nakal. Alit selalu baik terhadap teman-temannya karena selalu terburu-buru saja sehingga Alit terkadang melukai dirinya dan orang lain.
Mereka pun dapat bermain bersama kembali. Terkadang teman-teman Alit ikut mengingatkan Alit saat terburu-buru berlari atau menerima barang dari orang lain.   Yuk kita bantu Alit supaya Alit bisa pelan-pelan saat berjalan, berlari, dan saat mengambil sesuatu. Alit anak yang baik, ya teman-teman.  

(Angelina Ratih Devanti, 9 April 2014)