Saturday, February 14, 2015

Seri mimpi Lucu : Resital Melayang

               Lola suka sekali bermian piano. Sejak kelas 1 SD Lola sudah kursus piano di sekolah musik ‘Kusukamusik’.  Diusianya yang menginjak 10 Tahun, Lola bersama teman-temannya diberi kesempatan oleh pihak sekolah musik untuk mengikuti resital anak. Kesempatan ini diberikan untuk murid yang mendapat nilai baik saat ujian. Lola sangat senang bisa mengikuti resital anak. Ia bersemangat untuk berlatih, karena kali pertama Lola mempersembahkan lagu favorit pada sebuah resital. Setiap hari Lola berlatih baik di sekolah musik maupun di rumah. Mama Lola bangga melihat Lola tekun berlatih. Kelak saat besar nanti Lola ingin menjadi seorang pianis seperti Kakek. Dia ingin bisa bermian piano di gedung pertunjukan megah.  
               Saat kecil Lola sering melihat Kakek berlatih maupun mengajar piano. Kakek Lola seorang pianis, beberapa kali Lola juga diajak kedua orang tuanya untuk menonton Kakek pada resital musik. Lola sangat senang bisa diberikan kesempatan tampil di resital. Ia tidak sabar menunggu saat resital anak berlangsung.  Ia giat berlatih agar dapat menunjukkan kemampuan terbaik bermian piano.
Saking bersemangat berlatih Lola sampai lupa tidur siang, sehingga membuatnya mengantuk pada sore hari.  Sore hari Mama ingin mengajak Lola menjenguk Tante Mila di rumah sakit. Ternyata Lola tertidur di sofa ruang tengah. Mama melihat Lola tampak lelah karena sejak siang berlatih piano. Akhirnya Mama pergi sendirian.
               Hari yang ditunggu pun datang. Lola deg-degan tapi tidak sabar memainkan lagu favoritnya. Secara bergantian murid-murid terpilih mempersembahkan permianan musik. Tibalah saatnya Lola beraksi. Pemandu acara resital segera mempersilakan Lola tampil,
               “ Selanjutnya kita tampilkan solo piano dari Lolita.”
Semua penonton memberikan tepuk tangan semangat untuk Lola. Lola tampak gugup namun setelah mengatur nafas, Lola mulai menjentikkan jari pada tuts piano dan memiankan sebuah lagu.  Lola dapat membawakan lagu dengan baik, meskipun tersedia partitur di depannya. Ia terbawa alunan melodi sehingga membuat kepala dan badan bergerak mengikuti irama.
           Lola semakin terbawa alunan lagunya, kepala dan badannya terus bergerak seperti penari.  Tiba-tiba terjadi hal yang aneh, perlahan grand piano yang dimainkan Lola terangkat, Lola pun ikut terangkat. Semakin lama grand piano dan Lola terangkat tinggi dan melayang. Para penonton, kursi penonton, dan benda-benda diskeitar ikut melayang. Semua bergerak mengikuti alunan riang yang dimainkan oleh Lola. Lola takjub melihat dirinya melayang dan grand piano itu berdenting tanpa disentuh. Lola melihat Mama, Papa, dan penonton ikut melayang dan bergoyang mengikuti irama lagu. Lola merasa seperti sedang mengadakan resital di luar angkasa. Lagu terus mengalun. Lola tidak hanya melihat para penonton, dua boneka kesayangannya si Beno Kelinci  dan Teki ikut bergoyang melayang.  Cukup panjang lagu yang dibawakan Lola bersama grand piano melayang itu, tanpa terasa lagu pun hampir habis. Alunan pun mulai melambat. Perlahan para penonton, kursi, dan beberapa bneda mendarat ke tempat semula. Lola dan piano besar itu pun perlahan mendarat ke panggung. Namun pendaratan Lola tidak mulus. Lola tidak kembali ke tempat duduknya tetapi tersungkur jatuh di lantai panggung.  
               “ Aduuh...”, keluh Lola sambil mengelus pinggang.
               Lola heran melihat dirinya di lantai. Namun yang membuatnya semakain heran saat Lola melihat sekelilingnya, berbeda tidak seperti di aula resital. Kini ia melihat buku, krayon, dan partitur lagu berantakan di meja ruang tengah. Si Beno dan Teki berserakan di lantai. Ternyata Lola sangat menantikan hari resitalnya sampai terbawa mimpi dan membuatnya jatuh dari sofa. Lola menceritakan mimpinya pada Mama dan Papa. Mereka tertawa saat mendengar mimpi lucu itu. Papa senang melihat Lola bersemangat latihan. Papa berpesan agar Lola tetap menjaga kesehatannya dengan makan dan istirahat yang cukup.
              Lola berpikir jika mimpinya menjadi kenyataan pasti menyenangkan sekali ya, bisa bermian piano sambil melayanng dan bergerak mengikuti alunan musik. Lola sampai tertawa sendiri jika mengingat mimpinya itu.

(Angelina Ratih Devanti, 10 Februari 2015)


Kacamata Miss Picky : Patah Gigi Patah Hati


“ Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini.”
Pernah mendengar penggalan lirik tersebut, kan. Lirik itu menunjuk pada sebuah perbandingan rasa sakit. Lirik yang sering dipakai untuk guyonan atau pada adegan drama (baik drama lebai maupun drama komedi) dimana tokoh sedang patah hati muncul penggalan lagu tersebut sebagai pemanis adegan. Orang diharapkan memilih untuk sakit gigi daripada merasakan sakit hati. Seakan sakit gigi tidak ada apa-apanya dibanding sakit hati. Tapi kenapa sakit hati tidak dibandingkan dengan sakit lainnya? sakit gigi lebih memang pamor dalam lirik dibanding sakit perut, sakit pinggang atau sakit lainnya. Jangan salah sakit gigi juga menyakitkan seperti sakit hati. Yang namanya sakit mana ada yang enak.    
Saat seseorang mengalami brokenheart, seakan badan ‘lupa’ merasakan saat salah satu organ sakit, ya seperti penggalan lirik lagu tadi, gigi sudah bengkak tapi karena patah hati seakan rasa nyut-nyutan itu nggak ada rasanya. Seperi mati rasa fisik. Hebat ya pikiran manusia bisa memblokade, mentolerir rasa sakit fisik dari patah hati.  
Sebenarnya sakit gigi pun bisa membuat seseorang sakit hati. Saat seseorang sedang sakit gigi, merasakan gusi berdenyut sampai kepala juga ikut berdenyut. Orang sering menyebut, “cenat-cenut” atau “ gigiku nyut-nyutan”. Coba bayangkan jika kita sedang merasakan ‘nyut-nyutan’ di gusi dan kepala, saat itu kita juga sedang melakukan sesuatu hal, mungkin konsentrasi terganggu, mungkin peluang melakukan kesalahan lebih besar, efeknya apa yang dikerjakan tidak total. Atau merasa tidak percaya diri karena gusi bengkak seperti orang sedang ‘mengemut’ permen. Gigi patah, bisa membuat seseorang ‘patah hati’. Gigi seri depan patah, membuat penampakan diri seperti lansia. Kalalu kejadiannya terjadi pada lansia mungkin dianggap wajar, gigi sudah banyak yang tanggal. Bagaimana jika kejadiannya terjadi pada anak muda? Mungkin saja akan merasa tidak percaya diri. Pasti ada keresahan bagaimana ya jika bertemu pacar, bagaimana kalau berdiskusi dengan klien, dan segala macam keresahan. Saat berhadapan dengan orang lain, mungkin akan merasa risih karena giginya ‘ompong’.  Belum lagi jika ke’ompong’an itu dipertanyakan lawan bicara. Rasanya, ya mungkin seperi patah hati. (mungkin) Patah gigi juga bisa membuat hati ‘ciut’ kan. Patah gigi juga memicu sakit lain, jadi susah makan, jadi malas makan, asupan makan berkurang dan akhirnya sakit perut..
Bisa dikatakan yang namanya sakit apapun itu baik fisik maupun psikis tidak enak. Sakit gigi tidak lebih baik dari sakit hati. Sakit hati tidak lebih baik dari sakit gigi. Demikian juga sakit perut, sakit pinggang, dan sakit lainnya.
Bukan “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”
Karena sama menyakitkan, “cenat-cenut” dan “nyut-nyutan” 
Tapi, Lebih baik SEHAT J


 (Angelina Ratih Devanti, 8 Februari 2015) 

Monday, January 5, 2015

Cerita Katak


Hujan sudah turun berbulan-bulan, bahkan angin ikut beraksi. Matahari seperti dipaksa hibernasi. Manusia menjadi enggan pergi jika tak ada yang pasti. Entah bagaimana asal mulanya atau mungkin aku sudah tercipta sedemikian rupa bisa menikmati fenomena alam ini.

Saat sebagian langit meredup kelabu, aku dan kawan-kawan siap berpesta pora layakanya manusia yang sedang berbahagia mendapatkan sesuatu yang istimewa.

Satu, dua, bahkan tak terhingga titik air jatuh membuatku gaduh. Seperti deretan musik perkusi ditabuh, Aku dan kawan-kawan siap berpesta tanpa jenuh. 

Menikmati hujan berarti menikmati kebahagiaan dan kebebasan. Ini hanya berlaku untukku dan kawan-kawan. Mungkin ada segelintir manusia atau spesies lain dapat menikmatinya.
Pernah ku lihat manusia berlarian sambil merentangkan tangan seperti burung yang siap berkelana. Begitu ceria membiarkan badannya kuyup terguyur semesta. Rasanya aku ingin mengajaknya berpesta bersama.

Tapi, tidak ! dia bisa menjerit terbirit-birit, atau memukulku dengan kayu. Namun bisa lebih tragis, melindasku dengan sepatu. Jadi biarkanlah dia sendirian bergaduh.

Guyuran semesta menghilang, aku harus menghilang. Jika tidak mungkin nyawaku melayang. Diterkam mangsa yang mabuk kepayang atau terjebak dalam kotak para bocah yang beraksi layaknya pawang.
Bersembunyi dibalik dedaunan, dipinggir kolam atau di kolong selokan lumayan aman. Namun saat mata-mata jeli membongkar tak ada pilihan, menjadi tawanan atau santapan. Menjadi santapan, karena kami memang bagian dari rantai makanan. Menjadi tawanan, Kami juga bagian dari penelitian.

Bersenandung tentang alam,
Melompat bebas,
Bersembunyi di balik batu dan dedaunan,
Menidurkan berudu-berudu di teratai,
Bercengkerama dengan semesta.
Itulah cerita si penikmat hujan.


 (Angelina Ratih Devanti, 2 Januari 2015, terinspirasi dari hujan dan seekor katak di teras rumah) 

Saturday, December 6, 2014

Ceritaku Bersama Teman Spesial: #7 Bermain Musik Bermain Dio

Ceritaku Bersama Teman Spesial
#7 Bermain Musik Bersama Dio
Dalam rangka merayakan hari anak nasional Sekolah Ceria mengadakan lomba antar kelas. Salah satu lomba adalah lomba gerak dan lagu. Semua kelas wajib memberikan pertunjukan terbaik. Kelas Matahari yang dipimpin oleh Pak Nana, tidak mau kalah mengikuti lomba ini. Pak Nana bersama murid-murid merundingkan pertunjukan yang akan ditampilkan. Mereka akan membuat drama musikal mini. Sebagian murid bermaian peran dan lainnya bermain  alat musik.
Pak Nana dan murid-muridnya membuat cerita dan memilih lagu menarik.  Namun Pak Nana bingung, kalau semua murid bermain peran dan bernyanyi siapa yang akan bermain alat musik ya? Pak Nana mahir bermain gitar namun kurang lengkap jika hanya diiringi gitar. Pak Nana bertanya kepada muridnya yang bisa bermian musik. Murid-murid pun bingung. Siapa ya yang bisa membantu Pak Nana?
“ Rika, kamu saja yang bantu Pak Nana, kamu kan les biola.”, ujar Leo.
“Kamu bisa main biola, Rika?”, tanya Pak Nanan.
“Saya baru belajar, Pak. Belum lancar.”, jawab Rika malu.
“ Wah siapa lagi yang bisa bermain alat musik?”, tanya Pak Nana.
Semua murid saling memandang bingung. Kira-kira siapa yang bisa bermain musik ya? Pak Nana ingin satu anak bermain piano. Tiba-tiba saat mereka sedang berunding,
‘JDUUK!’
Semua menoleh kearah pintu.
“Aduuh!”, terdengar suara dari balik pintu.
Pak Nana segera melihat yang terjadi. Ternyata Dio datang. Melihat Dio terbentur pintu beberapa temannya malah tertawa. Hari ini Dio tidak memakai kacamata sehingga pandangannya semakin tidak jelas.
“ Kacamata Dio mana?”, tanya Pak Nana.
“ Ketinggalan di rumah nenek, Pak. Nanti sore baru diambil.”, jawab Dio.
“Pakai kacamata saja masih suka nabrak, sekarang malah nggak dipakai.”, ujar Nino.
“Temennya sakit kok malah ditertawakan, sudah..sudah.. “, Pak Nana menennagkan suasan kelas yang ramai sambil membantu Dio.  
Doni teman sebangku Dio, membantunya ke tempat duduk.  Pak Nana kembali berdiskusi tentang pemain msuik untuk drama musikal. Semua murid masih tampak bingung menentukan siapa yang akan membantu Pak Nana untuk bermain msik.
“ Pak, Dio kan bisa main piano, Dio saja.”, ujar Doni.
“ ahahahahaha….”, semua murid serempak tertawa. Namun Pak Nana malah bingung karenanya.  Pak Nana memastikan kepada Dio apakah Dio bisa bermian piano seperti yang dikatakan Doni.  Dio hanya mengangguk pelan.
“mata empat emang bisa main piano, nanti kalau salah lagunya gimana?”, bisik Rara pada Sisi.
“ Iya, ya. Dia kan suka nabrak-nabrak, nanti kalau main piano salah pencet tutsnya gimana?’, ujar Sisi.
“ Dio kan pernah mengiringi upacara 17 agustus di kecamatan. ”, ujar Doni. Pak Nana ingat saat Dio mengiringi upacara bendera di kecamatan. Ibu Kepala sekolah memilih Dio karena Dio memang mahir bermain piano. Sejak kecil Dio diperkenalkan piano oleh orang tuanya. Dio memang tidak bisa melihat dengan baik karena terdapat gangguan pada matanya, namun Dio cepat sekali belajar musik. Dio pun bisa memainkan lagu apapun dengan piano.  
Akhirnya Pak Nana mengajak semua muridnya ke aula besar untuk latihan pertama. Di sana ada piano besar.  Pak Nana telah menyiapkan cerita dan lagu. Semua murid giat berlatih untuk menampilkan pertunjukan terbaik. Dio dibantu Pak Nana dan Doni menyusuri piano besar itu.  Beberapa teman Dio masih ada yang belum percaya bahwa Dio bisa bermain piano.  
“ Emang si mata empat bisa main piano?”, bisisk Joni.
“ Pintu saja dia tabarak, nanti pianonya rusak lagi karena salah pencet”, bisik Andi.
“ Rika, kamu saja yang main biola daripada Dio.”, ujar Sisi.
“ Aduh, aku belum mahir, takut salah nanti”, jawab Rika ragu.  
Pak Nana telah memberikan aba-aba bahwa latihan akan segera dimulai. Latihan diawali dengan latihan bernyanyi. Pak Nana meminta Dio memainkan lagu  Cublak-cublak Suweng. Lagu ini akan digunakan dalam pertunjukan.  Dio dapat memainkan lagu Cublak-cublak Suweng dengan baik. Ia sama sekali tidak merasa kesulitan unttuk memainkan. Sebelumnya Pak Nana meminta Dio untuk mendengarkan lagu itu dari rekaman. Dio bisa memainkan lagu itu lebih baik dari rekaman. Alunan yang dimaninkannya terdengar riang. Pak Nana bangga Dio memainkannya lebih baik.
“ Wah, Bagus ya,ini lagu apa sih, Pak?”, tanya Santi.
“ Ini kan lagu cublak-cublak suweng.”, bisik Sisi.
“ Bagus Dio!”, puji Pak Nana.  
“ hebat juga si mata empat, tapi lagu lainnya emang bisa?”, ujar Andi.
Mereka pun berlatih lagu-lagu yang disiapkan Pak Nana. Dio dapat mengirirngi teman-temannya bernyanyi. Pak nana pun ikut mengiringi dengan gitarnya.  Latihan hari ini sangat menggembirakan. Walaupun masih ada beberapa teman yang meragukan, Dio tetap mengirirngi dengan  gembira.  Latihan berikutnya semua murid dapat menampilan perkembangan yang baik agar dapat memeberikan yang terbaik pada perlombaan nanti.
Saat perlombaan pun tiba. Semua murid kelas matahari terlihat semangat menampilkan pertunjukan. Dio dan  Pak Nana mengiringi teman-teman bermian peran dan bernyanyi.  Satupun lagu yang dibawakan oleh Dio tidak ada yang salah dan semuanya terdengar indah. Pak Nana bangga padanya.  Teman-teman Dio yang selalu mengejeknya ‘si mata empat’ menjadi sadar bahwa Dio walalupun pandangannya terbatas tetapi bisa membuat mereka belajar dan Kelas Matahari menjadi pemenang lomba gerak dan lagu. Waah pasti mereka gembira ya.  
Jika teman-teman mempunyai teman seperti Dio, mengalami gangguan penglihatan, yuk kita bantu. Mereka juga punya kelebihan, jadi jangan pernah meragukan mereka meskipun mereka terbatas, ya. Cara membantunya bagaimana? Jika mereka merasa kesulitan melihat atau membaca teman-teman bisa membantu membacakan tulisan yang tidak jelas. Mereka teman yang baik juga. Melalui kelebihan mereka kita bisa belajar. J


(Angelina Ratih Devanti, 25 Agustus 2014, terinspirasi dari: Adik-adik musisi hebat yang telah membantuku saat menyusun tulisan ilmiah) 

Kacamata Miss Picky : Dikejar 'Deadline' vs Menjaga Esensi

            Pernah ditanya pertanyaan ini ? “ kapan nikah.” , “ mana pacarnya?” , “kok masih jomblo aja sih.”, “ mau nunggu apa lagi, pacaran udah lama,  buruan nikah.” , dan  masih banyak pertanyaan senada lainnya yang seolah menjadi hantu bagi seorang single. Mungkin juga berlaku untuk para couple dalam kehidupan relationship. Bagaimana para single, apakah risih, dongkol, biasa aja, atau sudah depresi. Janganlah sampai depresi buang-buang waktu. Lalu bagi para couple bagaimana,  Merasa dikejar ‘setoran’ ? Siapkah? Jika merasa mantap ya monggo. Jangan sampai terpaksa J
Seorang teman pernah mengeluh tentang statusnya sebagai seorang single.  Dia seorang perempuan dan usia produktif. Dia seperti kebakaran jenggot saat teman-teman sebaya satu persatu melangkah ke jenjang pernikahan. dia merasa khawatir padahal pasangan saja belum ada.  Dia merasa dunia akan runtuh jika tidak segera menikah. Gue hanya bisa menghela nafas.  
Ada pula teman lain, usianya hampir menginjak usia ‘puber kedua’ (sebetulnya puber kedua itu tidak aja, tetapi masa dimana seseorang merasa melewati masa tertentu sehingga baru merasakan masa itu saat sudah menginjak usia yang tidak semestinya, ini kata seorang psikolog di program acara tivi J ) dia merasa khawatir karena tak kunjung menikah. Dia sempat menjalin hubngan dengan seseorang namun batal menikah. Kemudian dia menjalin hubungan kembali cukup lama namun lagi-lagi batal menikah. Merasa bahwa dengan usianya yang sedemikan mapan, sudah tepat untuk menikah seakan dikejar  bom waktu.. Tapi apa mau dikata jika beelum ada pasangan.
Dua sejoli, lagi-lagi ini teman gue, Mereka pacaran cukup lama. Mereka sudah di ‘gong’ untuk segera menikah. Dalam curhatnya, menyiratkan bhawa dia belum terlalu siap untuk menikah, tapi karena tuntutan dari keluarga ya apa mau dikata.
Seakan menikah itu adalah tuntutan sosial, kalau tidak memenuhi tuntutan itu, seseorang dianggap BURUK. (gue ingin menghela nafas yang amat panjang)
Kenapa sih gue repot membahas ini? Hal ini kadang mengganggu pikiran gue, selain pernah dilempar pertanyaan-pertanyaan ‘bising’ itu dan mendengar keluhan para jomblo, gue juga mau berusaha berpikir maju bahwa yang namanya menikah itu bukan hal sepele, tapi memuat banyak aspek yang perlu disiapkan secara matang. TIDAK BISA ASAL. Gue memandang bahwa menikah atau tidak menikah adalah pilihan PERSONAL seseorang, ibaratnya itu ‘daleman’ , yang berhak mengatur individu itu sendiri bukan orang lain.
Gue ingin mempertanyakan, kenapa sih orang begitu cemas dengan status. Katanya jodoh sudah ada yang ngatur. Ya memang tetap ada usaha. Tapi seberapa keras lu berusaha kalau memang belum waktunya apakah lu akan bernegosiasi hebat sama Tuhan, “Tuhan minggu depan aku mau nikah, tunjukkan jodohku”  kan tidak mungkin juga. Gue pun pernah mengalami rasa khawatir  itu, tapi entah kenapa untuk urusan yang satu itu, gue lebih memilih untuk berserah pada Sang Pencipta dan fokus pada hal-hal yang asik gue jalani. So masih merasa aman meskipun suara-suara bising itu datang.  J
Menjalin hubungan serius (menikah) bukan hal mengejar deadline atau target. Entah kenapa gue merasa konyol terhadap orang-orang yang sedemikian mudahnya menargetkan hal itu. Bahkan menjadi sangat ‘murah’ atau asal memilih pasangan  bahkan  asal menikah yang penting aman dari gunjingan orang. Ya, terkadang seorang single dianggap aneh bahkan buruk jika tak kunjung menikah. Terutama single ladies, dicap perawan tua lah, nggak laku lah, dan cap lainnya.  
Orang-orang yang khawatir dengan status, menjadi asal dalam berhubungan bahkan asal menikah  demi status tanpa peduli apakah sudah mengenali dengan baik bibit, bebet, bobot pasangannya. Sebenarnya esensi menikah itu bagi mereka itu apa sih? Apakah menikah merupakan ajang mendapat award dari lingkungan sosial karena telah sukses dalam hidup? Mungkin lebih tidak mengerti  dengan pemikiran orang-orang yang memberi cap BURUK untuk seorang single (terutama single ladies). Sesempit itu kah seseorang memandang bahwa semua orang harus menikah. Jika tidak menikah berarti dia itu ‘tidak normal’ ?
Menikah bukan nilai akademik yang harus diraih supaya bisa naik kelas atau masuk perguruan tinggi terbaik. Menikah bukan untuk menyelematkan seorang jomblo dari rasa khawatir terhadap status.  Menikah itu hubungan dua individu bersatu atas nama cinta yang memuat kepercayaan (trust), komitmen, komunikasi , personality, partnership, materi, dan tentu cinta. Mungkin ada aspek lain yang mendukung tapi menurut gue tujuh aspek itu penting.
Bayangkan jika lu menikah dengan orang yang tidak lu kenal, apkah lu akan nyaman dengan orang itu, tentu tidak. Lu menikah dengan orang tidak bisa lu percaya atau tidak bisa memberi kepercayaan lu, bakal tidak sehat. Namanya menikah, dua individu membangun keluarga baru dan siap menjadi orang tua. So kenapa gue memandang menikah itu tidak bisa dianggap sepele atau dianggap target yang asal harus dicapai jika tidak dicapai lu jadi buruk,  karena lu akan membangun keluarga baru, ada inidvidu baru. Untuk membangun itu semua butuh tujuh aspek tadi. Persiapannya juga tidak bisa sembarangan.  Asal memilih pasangan supaya mencapai target MENIKAH menurut gue bukan hal yang bijak. Terlalu terburu-buru tanpa berpikir panjang pun juga tidak bijak.  
So, memilih dan memilah hidup untuk menikah itu memang bukan perkara membalikkan telapak tangan. Merasa ada pasangan, “yuk nikah”, nggak se-sepele itu. Buat orang yang menikah atau  ingin menikah mestinya bisa mengerti tujuan menikah untuk apa dan tetap menjaga esesni dari sebuah pernikahan itu penting. Menjadi single pun juga bukan pilihan hidup yang buruk.  Jika seseorang menunda menikah atau tidak siap menikah dan memutuskan hidup untuk sendiri ya itu pilihan bukan sesuatu yang harus dipaksa.
 Menikah bukan target hidup yang harus kudu diraih secepat lu meraih gelar sarjana atau kedudukan bonafit di perusahaan, karena itu urusannya soal hidup lu selanjutnya. Kesiapan mental penting didukung materi. Bukan bicara matre tetapi realistis. Membangun keluarga dan kehidupan baru butuh itu semua. Bagi yang memilih tidak menikah pun juga tidak salah. Berbagi hidup dengan orang lain selain berkeluarga bisa dengan hal lain, mislanya untuk kehidupan banyak orang, mengabdi pada masyarakat. Menjadi single pun tidak selamanya akan merasa sepi jika punya cara jitu menyikapi kesendirian.
Bijak dalam melangkah dan berusaha memandang kehidupan dari sisi yang luas juga  perlu untuk mengurangi rasa cemas terhadap status. Mantap dalam melangkah untuk jenjang serius dari hubungan yang telah dibina dengan mengedepankan aspek-aspek yang dibutuhkan untuk membangun hidup bersama dalam keluarga baru, juga penting bari para couple yang ingin menikah.

(28 Agustus 2014)


Thursday, November 27, 2014

Kacamata Miss Picky: Hidup itu Pilihan


Pernah makan di restoran cepat saji? Pasti pernah. Restoran cepat saji baik dari luar negri maupun  restoran cepat saji ala prasmanan masakan rumahan. Di sana masakan sudah disajikan terlebih dahulu sehingga pengunjung tidak perlu menunggu masakan diolah terlebih dahulu. Pengunjung masuk dan bisa langusng memilih masakan yang telah tersedia. Mulai dari masakan khas jepang sampai khas padang. Mau chicken katsu  sampai telur balado bisa dipilih. Gue bukan mau membahas tentang makanan tapi tentang konsep restoran cepat saji itu memberikan banyak pilihan makanan dan bisa langsung pilih.  
Life is like that. Banyak pilihan yang bisa kita ambil, sesuai dengan tujuan kita sendiri. Kalau kita datang ke restoran cepat saji karena sangat kelaparan, kita mungkin tidak peduli masakan apa, pokoknya makan dan kenyang. Lain hal kalau kita lapar tapi lagi ‘ngidam’ makanan tertentu, kita akan lebih pilih restoran atau makanan yang diinginkan. Hidup juga begitu. Kita  dihadapkan banyak pilihan-pilihan.
Saat seorang siswa lulus SMA, dia bisa memilih mau kerja dulu atau meneruskan pendidikan ke jenjang universitas. Kadang karena tuntutan sosial setelah lulus ya kuliah. Tapi ada juga kok orang-orang yang memilih cari uang. Banyak alasan untuk memilih.

Naik satu strata lagi, saat lulus kuliah mau kerja atau menikah? Itu pun pilihan. sebenarnya tidak perlu menunggu lulus kuliah pun bisa menikah. Tapi karena tuntutan sosial apa yang ingin kita pilih jadi buyar. Misalnya setelah lulus kuliah ingin melanjutkan pendidikan di jenjang magister, tapi tuntutan soisal meminta kita memilih untuk menikah. Mungkin bisa saja terjadi jika pasangan sudah ada jika belum ada apa mau dikata? Terima dijodohkan? Pilihan mu itu.

Setelah menikah, juga dihadapkan pula dengan pilihan hidup lain, mau punya anak atau menunda. Jika memilih ingin punya anak, memilih berapa anak. Semua pilihan.
Dan mungkin dengan contoh peristiwa hidup lainnya.

Menentukan dan menjalani pilihan hidup itu semesetinya hak individu bukan tergantung dari tuntutan sosial, kecuali Tuhan yang meminta. Mestinya menjalani hidup dengan begitu banyak pilihan itu bisa membuat seseorang bahagia atas apa yang dipilihnya.  Ketika seseorang memtuskan pilihan jalan hidup tertetntu atas dirinya sendiri mungkin dia akan merasa lebih bahagia. Tapi lain persoalan jika ternyata pilihannya itu salah mungkin akan membuat si individu itu nelangsa. Kalau individu itu sadar bahwa pilihannya salah dan ingin berubah baik, dia bisa belajar dari kesalahannya. Dibanding menjalani pilihan dari orang lain. Kalau pilihan dari orang lai itu tidak sesuai bisa dibahayangkan apakah orang itu bahagia? Mungkin ya mungkin tidak. Jika pilihan orang lain itu salah, apakah si individu bahagia? Atau semkain nelangsa? Bisa ya bisa tidak.  

Menjadi bahagia itu pilihan. Bahagia untuk siapa? Tergantung individu itu memilih. Dia mau bahagia untuk dirinya sendiri atau karena tuntutan orang lain.  

Saat kita mempunyai pilihan baik untuk membawa bahagia bisa pula terbentur dengan tuntutan. Kadang seseorang kalah dengan tuntutan. Kenapa bisa kalah? Bisa karena budaya atau norma sosial misalnya seorang anak yang memilih untuk masuk perguruan tinggi dengan bidang yang ia minati namun orang tuanya menuntut bidang tertentu. Dia mengalah untuk memilih pilihan orang tuanya. Bahagia kah? Tergantung. Jika tidak bahagia itu yang bahaya.  Kalau orang yang sudah mantap dengan pilihannya dan ternyata terbentur dengan tuntutan sosial, mungkin bisa tidak bahagia. Lain persoalan jika seseorang tidak mantap dengan pilihannya, peran orang lian dibutuhkan.untuk mengarahkan bukan menjatuhkan.  
Itu segelintir contoh bagiamana pilihan dan tuntutan saling beradu. Kita mungkin perlu menjadi pemberontak untuk jadi bahagia.

Kalau kita sadar bahwa bahagia itu pilihan untuk diri sedniri, ya gapailah, perjuangkanlah, dan tetap konsisten untuk menggapainya. Kalau ternyata pilihan kita salah belajarlah dan jangan sampai jatuh di lubang yang sama.

Hidup itu pilihan, demikian pula dengan bahagia atau nelangsa. Tergantung kita mau memilih yang mana. Tapi ingat ada yang mengatur pilihan itu, Tuhan. Tapi Tuhan itu baik pasti memberikan pilihan baik pula.  


(19 agustus 2014)  

Friday, August 22, 2014

Kacamata Miss Picky : Undangan Nikah atau Simposium?


Semua orang tentu pernah mendapat undangan pernikahan dari kerabat atau kolega. Apa saja yang terdapat di undangan nikah? Tentu nama kedua mempelai, keluarga, waktu, dan tempat acara pernikahan. Tapi pernah kah kita lihat beberapa undangan yang mencantumkan gelar pendidikan di belakang nama mempelai? Bahkan gelarnya amat panjang. Ini acara pernikahan atau seminar kesehatan? 
Beberapa hari lalu gue membaca sebuah undangan pernikahan teman. Di undangan kedua mempelai mencantumkan gelar pendidikan. Tetiba gue berpikir, bertanya dan tergugah untuk menuliskan tulisan ini. Mungkin terkesan gue kurang kerjaan buang-buang waktu, tapi entah kenapa cukup menyita pikiran.  
Sebenarnya gelar pendidikan itu apakah perlu dicantumkan pada undangan nikah? Dilihat dari judulnya saja ‘Undangan Pernikahan’ tentulah acara yang diselenggarakan adalah pesta pernikahan. Apakah acara pernikahan berkaitan dengan perbincangan ilmiah, tentulah tidak.  Jika dibandingkan dengan undangan simposium atau seminar, pihak penyelnggara tentu mencantumkan nama pembicara lengkap dengan gelar pendidkan atau gelar lainnya. Tentu ada gunanya. Peserta seminar atau simposium berhak mengetahui kualifikasi pembicara apakah layak dan sesuai membawakan topik terkait. Lalu bagaimana dengan acara pernikahan? apakah empu hajat pernikahan mencantumkan gelar supaya saat acara dibahas kajian ilmiah berdasarkan gelar mereka ? tentu tidak sama sekali.

Perlu atau tidaknya gelar pendidikan di undangan nikah dikembalikan lagi pada Empu hajat pernikahan. Mereka pasti punya tujuan masing-masing. Gue mencoba menelaah alasan mengapa gelar perlu dicantumkan pada undangan nikah, namun menurut gue pribadi tidak dicantunmkan pun tidak salah. 

Tujuan penghargaan diri. Adanya gelar sang empu hajat ingin menunjukkan bahwa mereka berasal dari keluarga berpendidikan, dipandang dari keluarga berada, keedua mempelai sudah mapan membangun kehidupan baru, pihak orang tua berhasil membuat anak-anak mereka sukses di dunia pendidikan tinggi, dan sebagainya.

Itu kalau kedua belah pihak sama-sama mempunyai gelar pendidikan setara, misalnya sama-sama sudah mendapat gelar sarjana. Namun jika salah satu pasangan tidak mempunyai gelar pendidikan apapun atau gelarnya berbeda, misalnya pasangan yang satu hanya lulusan SMA/diploma sedangkan pasangannya bergelar doktor atau bahkan punya gelar yang lebih panjang.  Lagi-lagi menurut gue, agak jomplang ya atau terkesan pasangan/keluarga pasangan yang satu ingin terlihat lebih unggul. Bukannya acara pernikahan itu adalah acara kedua mempelai? Tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi. Akan lebih baik gelar itu tidak dicantumkan daripada malah jadi gunjingan dan terkesan kedua keluarga tidak kompak.

Ada pula Empu hajat pernikahan yang berlatar belakang keluarga intelektual dan terpandang, tidak menggunakan embel-embel gelar pendidikan dan lainnya dalam undangan nikah anaknya. Gue lebih salut dengan hal ini. Kesan bersahaja lebih ditampilkan dengan saling menjaga kekompakan keluarga. Faktanya pun ada Gue pernah membaca sebuah undangan pernikahan kolega orang tua gue, mereka berasal dari keluarga intelektual, keluarga sangat terpadang, bahkan mempelainya pun berlatar pendidikan tinggi (lebih dari sarjana). Dalam undangan mereka tidak mencantumkan gelar pendidikan atau lainnya. Penghargaan diri dari luar sudah tertanam dengan baik karena kehidupan keluarga mereka yang bersahaja.  

Pandangan gue tentang undangan nikah tanpa gelar atau dengan mencantumkan gelar itu kembali pada pilihan pasangan atau Empu hajat acara pernikahan. Apalah arti gelar pendidikan atau lainnya yang tercantum di undangan nikah, yang terpenting kan kekompakan kedua pasangan dan keluarga. Bibit bebet bobot penting. Kematangan mental dan kesederhanaan hati juga penting.
Undangan nikah bukan undangan simposium, yang harus melampirkan sederet gelar panjang J


(19 Juni 2014)