Saturday, August 16, 2014

Ceritaku Bersama Teman Spesial: #5 Todi Juara Lari

Ceritaku Bersama Teman Spesial
#5 Todi Juara Lari
Pagi yang cerah Pak Edi mengajak murid-murid Kelas Asteroid bermian di lapangan sekolah. Sari, sang ketua kelas memimpin barisan. Mereka semua berjalan menuju lapangan dengan riang. Setibanya di lapangan Sari merasa ada yang kurang saat melihat barisan teman-temannya.
“ Pak Edi, Todi nggak masuk.”, ujar Sari.
“ Nah, itu dia”, ujar Pak Edi sambil menunjuk Todi yang baru muncul. Ia tertinggal. Pak Edi membantu Todi untuk bergabung. Teman-teman Todi menatap heran. Ada yang berbeda dari Todi.
“ Kaki kayunya mana, Todi ?”, tanya Beno si badan besar.
“ Patah.”, jawab Todi.
“ Nggak bisa jalan dong ?”, ujar Tika.
“ Bisa. Kan pakai kursi roda.”, jawab Todi.
“Sekarang kakinya Todi roda ya hihihi.”, bisik Tika pada Beno.
Biasannya Todi memakai tongkat untuk berjalan. Sejak kecil kaki Todi sakit, tidak bisa bergerak. Hari ini Todi menggunakan kursi roda. Meskipun Todi duduk di kursi roda, ia tetap ingin mengikuti olah raga bersama teman-teman.  
Hari ini Pak Edi mengajak bermain “Lari Ambil Harta Karun”. Wah asyik sekali mengambil harta karun. Harta karun apa ya ? Pak Edi memasukkan bendera-bendera ke dalam ember biru. Semua murid diminta untuk mengambil  bendera dengan cara berlari dan membawa kembali pada tempat semula.
Beno, si badan besar bersiap di barisan depan. Peluit dibunyikan oleh Pak Edi. Secara bergantian murid-murid berlari mengambil bendera dan kembali ke tempat semula. Ada murid yang berlari cepat namun ditengah jalan terjatuh, seperti Sari, Beno, dan Rafa. Namun ada pula yang malah berjalan karena takut terjatuh. Pada barisan paling belakang, tinggalah Todi.
“ Todi, mau coba juga ?”, tanya Pak Edi.
“ Iya.”, jawabnya mantab.
“ Memang, Todi bisa ?”, ujar Beno ragu.
Todi berusaha menggerakkan kursi roda dengan cepat. Ia mengambil bendera di ember biru kemudian berbalik menuju tempatnya semula. Suasana semakin ramai. Semua murid bersorak. Pak Ade ikut memberi semangat pada Todi.
“ Wah, Todi bisa cepat mengambil bendera. ”, puji Sari.
“Kalau pakai kaki kayu, pasti nggak bisa cepat.”, Beno mencibir.
“ Kaki kayu itu apa, Ben?’, Tiba-tiba Pak Edi mendekati Beno.
“Kakinya Todi, Pak, kan Todi jalannya pakai tongkat.”, ujar Beno sambil tertawa. Beberapa teman lain ikut tertawa.
“Tapi sekarang Todi jalannya pakai roda.”, sahut Momo.
Pak Edi memberi pengertian pada Beno dan teman-teman bahwa Todi masih mempunyai kaki seperti mereka. Meskipun kaki Todi tidak bisa untuk berjalan, Todi masih bisa bergerak dengan tongkat maupun kursi roda. Todi tampak bersemangat untuk bermain bersama teman-temannya. Pak Edi meminta agar murid-muridnya dapat membantu Todi saat mengalami kesulitan.
Tiba-tiba Pak Edi mempunyai ide.
“ Sekarang kita lomba, ya !”, seru Pak Edi bersemangat.
Semua murid sangat senang. Mereka mengajukan diri jadi peserta. Pak Edi meminta 3 orang untuk jadi peserta babak pertama, sementara murid lain menunggu giliran.  
“ Tiga orang dulu ya, nanti gantian, siapa mau jadi peserta babak pertama ?”, tanya Pak Edi.
Beno mengajukan diri. Rafa si kurus tidak mau kalah. Sudah ada 2 peserta, lalu siapa lagi ya ?
“ Saya, Pak.”, seru Todi sambil mendorong kursi rodanya.
Beno dan Rafa menatap heran. Apakah Todi bisa menang melawan mereka. Teman lainnya pun ragu. Pak Edi justru bangga pada Todi karena Todi bersemangat mau  ikut lomba lari.
Beno, Rafa, dan Todi bersiap  pada posisi masing-masing. Peluit segera dibunyikan oleh Pak Edi. Mereka berlari menuju ember-ember berisi bendera. Beno si badan besar berlari sekuat tenaga mencapai ember. Rafa tak mau kalah dengan Beno. Bagaimana dengan Todi? Todi mendorong kursi rodanya agar dapat menyusul Beno dan Rafa. Mereka bertiga berhasil mengambil bendera dalam ember.
Saat kembali ke tempat semula, Beno berhenti sejenak di tengah lintasan lari karena lelah. Rafa berusaha sekuat tenaga berlari mengalahkan Beno. Tiba-tiba sepatu Momo terlepas dan terlempar ke dalam semak-semak. Rafa malah mengejar sepatunya. Todi terus berusaha mendorong kursii roda. Todi melewati Beno. Akhirnya pada babak pertama Todi menjadi juara. Semua teman-teman tepuk tangan untuk Todi. Semua bersorak gembira saat Todi telah kembali membawa bendera.
“ Wah, Todi kuat, padahal harus menggerakkan kursi roda.”, Puji Sari.
“ Huuh…huuh.. iya.. Kamu hebat, aku cepat lelah jadi kalah deh.”, ujar Beno dengan nafas terengah-engah. Todi hanya tersenyum. 
“ Kamu hebat Todi, kalau ada lomba lari lagi, kamu ikut ya.”, ujar Pak Edi bangga.
“ Iya, Pak !”, jawab Todi mantab.
Pak Edi memberitahu kepada semua murid bahwa Todi tetap bisa beraktivitas seperti mereka walaupun harus dibantu kursi roda atau tongkat. Teman-teman Todi  bangga dan tidak lagi meledek Todi dengan sebutan ‘ Si Kaki Kayu’ atau ‘ Si Kaki Roda ‘ .


(Angelina Ratih Devanti, 23 Mei 2014) 

No comments:

Post a Comment